Labusel — Sorotan tajam kini tertuju pada nakhoda baru Kepolisian Resor (Polres) Labuhanbatu Selatan. Publik tengah menanti keberanian dan komitmen nyata kepemimpinan yang baru untuk membersihkan wilayah hukumnya dari cengkeraman bisnis haram yang telah berakar bertahun-tahun. Ujian sesungguhnya bukan lagi sekadar menangkap pelaku-pelaku kelas teri atau bandar wanita yang kerap menjadi pemanis rilis pers, melainkan membongkar episentrum jaringan mafia narkoba yang terorganisasi dengan rapi.
Salah satu titik krusial yang menjadi rapor merah peredaran narkotika berada di Dusun Asahan, Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Berdasarkan penelusuran informasi dan kesaksian yang dihimpun dari masyarakat, wilayah ini dikuasai oleh duet gembong narkoba berinisial RBT Sitorus dan VJY, dengan sokongan kuat dari seorang koordinator lapangan (korlap) berinisial HD Sitorus.
Jaringan ini tidak lagi bergerak dalam bayang-bayang tersembunyi, melainkan beroperasi secara terstruktur dengan memanfaatkan pos pengamanan sebagai kedok aktivitas mereka.
Menurut penjelasan rinci dari warga setempat yang resah namun terintimidasi, rute menuju episentrum peredaran ini sangat jelas.
Dari arah Bank Mandiri Cikampak, terdapat jalan aspal ke kanan menuju Dusun Asahan. Tepat di ujung aspal pertama, berdiri sebuah posko yang menyerupai pos siskamling. Posko itulah yang menjadi basis pertahanan mereka, sekaligus menjadi titik utama arena transaksi barang haram tersebut.
Keberadaan posko yang berfungsi sebagai benteng pengawasan ini menunjukkan betapa beraninya jaringan RBT Sitorus cs menantang hukum. Nama RBT Sitorus sendiri bukanlah nama baru dalam lanskap peredaran gelap narkoba di Labuhanbatu Selatan. Praktik bisnis ini disinyalir telah menggurita selama bertahun-tahun tanpa tersentuh tangan hukum secara mendasar, memicu tanya di tengah masyarakat mengenai efektivitas fungsi penegakan hukum selama ini.
Secara sosiologis dan intelektual, pembiaran terhadap jaringan yang telah menahun seperti ini tidak hanya merusak generasi muda di Torgamba, tetapi juga mendelegitimasi wibawa institusi kepolisian di mata publik. Ketika hukum hanya tajam kepada bandar-bandar minor namun tumpul pada gembong lawas, kepercayaan masyarakat berada di titik nadir.
Oleh karena itu, situasi di Dusun Asahan ini menjadi desakan sekaligus tantangan terbuka bagi Kapolres Labuhanbatu Selatan yang baru. Publik tidak butuh retorika penangkapan seremonial. Yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan taktis, progresif, dan tanpa kompromi untuk meruntuhkan dinasti narkoba RBT Sitorus, VJY, dan HD Sitorus hingga ke akar-akarnya. Bola kini berada di tangan Kapolres: membuktikan integritas baru, atau membiarkan Torgamba terus dicengkeram mafia narkoba.
Rep : NR hasib

Komentar