Sambas -- Rizal Farizal Alumni tahun 90 dari SMA 1 Sambas memberikan tanggapan terkait,"Pelaksanaan ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) yang lagi viral di Media sosial seharusnya menjadi ruang edukatif dan kompetitif justru menuai kritik tajam. Dugaan ketidakprofesionalan panitia mencuat setelah terjadinya perselisihan dan komplain peserta yang dinilai tidak ditangani secara objektif dan bijaksana.
Sorotan tersebut disampaikan oleh Rizal Farizal yang menilai panitia gagal menjalankan mekanisme penyelesaian sengketa secara profesional selama perlombaan berlangsung.
Menurut Rizal, panitia melalui MC diduga mengambil keputusan secara sepihak tanpa melakukan cross check atau klarifikasi terlebih dahulu terhadap keberatan yang disampaikan peserta.
“Dalam kegiatan akademik seperti LCC, setiap komplain peserta seharusnya ditanggapi secara profesional. Panitia tidak boleh langsung mengambil keputusan sepihak tanpa memeriksa substansi keberatan yang disampaikan,” ujar Rizal Farizal.
Ia menilai tindakan tersebut mencerminkan lemahnya kesiapan teknis panitia dalam mengelola dinamika perlombaan. Padahal dalam kompetisi intelektual, mekanisme keberatan merupakan bagian penting untuk menjaga prinsip fair play dan objektivitas penilaian.
Rizal juga menyoroti peran MC yang dianggap terlalu jauh masuk ke ranah pengambilan keputusan. Menurutnya, MC seharusnya hanya menyampaikan hasil keputusan resmi dari dewan juri dan panitia setelah dilakukan pembahasan internal, bukan menjadi pihak yang terkesan menentukan arah keputusan secara spontan.
“MC itu tugasnya menyampaikan, bukan memutuskan. Kalau ada protes peserta, mestinya dilakukan verifikasi terlebih dahulu oleh panitia dan dewan juri,” tegasnya.
Kondisi tersebut disebut memicu kekecewaan sejumlah peserta karena merasa keberatan mereka tidak mendapatkan ruang klarifikasi yang adil.
Selain mekanisme komplain, Rizal turut mempertanyakan transparansi penilaian dalam perlombaan tersebut. Ia menilai panitia semestinya menjelaskan dasar keputusan yang dipersoalkan peserta agar tidak menimbulkan asumsi negatif maupun ketidakpercayaan terhadap hasil lomba.
“Kalau tidak ada transparansi, publik bisa menilai proses perlombaan tidak berjalan objektif. Ini yang harus menjadi evaluasi serius,” katanya.
Menurut Rizal, kegiatan pendidikan seperti LCC bukan hanya soal mencari pemenang, tetapi juga membangun budaya berpikir kritis, sportif, dan menghormati argumentasi peserta.
Atas kejadian tersebut, Rizal Farizal mendesak agar penyelenggara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kegiatan, termasuk kesiapan panitia, mekanisme penyelesaian sengketa, dan profesionalisme dewan juri.
Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang dalam kegiatan akademik berikutnya.
“Jangan sampai kegiatan pendidikan justru memberi contoh buruk tentang cara mengambil keputusan. Profesionalisme dan keadilan harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.
Rep : Salsabilla Fatha

Komentar