SEKADAU — Tokoh masyarakat adat Dayak Kalimantan Barat, Cornelis, menegaskan bahwa tantangan perjuangan masyarakat pada era modern saat ini bukan lagi semata-mata pertempuran fisik, melainkan pertempuran intelektual, pendidikan, dan kemampuan berpikir.
Pernyataan tersebut disampaikan Cornelis dalam kegiatan Kongres Literasi Dayak Internasional yang berlangsung di Kabupaten Sekadau pada 15–16 Mei 2026. Dalam forum yang dihadiri berbagai tokoh adat, akademisi, pegiat literasi, serta generasi muda Dayak itu, Cornelis menekankan pentingnya membangun kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi masa depan masyarakat adat.
“Pertempuran kita sekarang ini adalah pertempuran melalui otak,” tegas Cornelis di hadapan peserta kongres.
Mantan Ketua Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) dan mantan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat tersebut mengatakan bahwa masyarakat adat Dayak harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman melalui penguatan pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kemampuan memahami dinamika sosial, ekonomi, hukum, dan politik.
Menurutnya, ukuran kemajuan suatu bangsa maupun daerah pada masa kini sangat ditentukan oleh kualitas berpikir masyarakatnya. Karena itu, pendidikan tidak boleh dipandang sekadar formalitas, melainkan harus menjadi instrumen perjuangan dan perubahan sosial.
“Kalau dulu orang berjuang dengan tenaga dan kekuatan fisik, sekarang orang harus berjuang dengan ilmu, kecerdasan, kemampuan organisasi, dan penguasaan hukum,” ujarnya.
Cornelis juga menyoroti pentingnya persatuan masyarakat adat dalam menghadapi arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat. Ia mengingatkan bahwa masyarakat adat tidak boleh tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi apabila ingin tetap eksis dan dihormati di tengah perubahan dunia.
Dalam pandangannya, generasi muda Dayak memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga identitas budaya sekaligus mampu bersaing secara sehat di tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, ia mendorong lahirnya generasi yang kritis, berintegritas, berpendidikan, dan memiliki kemampuan kepemimpinan.
Cornelis menilai literasi menjadi salah satu kunci utama dalam membangun peradaban masyarakat adat yang maju dan bermartabat. Literasi, menurutnya, bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami keadaan, berpikir strategis, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Pernyataan Cornelis tersebut mendapat perhatian luas dari peserta kongres karena dinilai mencerminkan transformasi pola perjuangan masyarakat adat dari pendekatan konvensional menuju perjuangan berbasis pengetahuan, intelektualitas, dan strategi pemikiran.
Melalui pesan tersebut, Cornelis berharap generasi muda Dayak dan masyarakat Kalimantan Barat semakin termotivasi untuk belajar, membangun kapasitas diri, memperkuat solidaritas sosial, serta menjaga marwah adat dan daerah melalui jalur pendidikan, kecerdasan, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Rep : Salsabilla Fatha.

Komentar