Fadli Zon: Pemulihan Ekologis Dimulai dari Kesadaran Spiritual Manusia -->

Iklan Semua Halaman

Fadli Zon: Pemulihan Ekologis Dimulai dari Kesadaran Spiritual Manusia

Kabar Investigasi
Kamis, 07 Mei 2026

 


 

 Jakarta, Selasa, 5 Mei 2926 - Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) kembali menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Merajut Spiritualitas, Membongkar Sejarah Percandian Indonesia”. Kegiatan ini menjadi wadah refleksi bersama untuk menelaah hubungan erat antara nilai-nilai kerohanian, pelestarian lingkungan, serta warisan budaya bangsa.


Seminar berlangsung di Aula Utama Yayasan Sangha Theravada Indonesia, Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Selasa, 5 Mei 2026, dan menghadirkan tokoh agama, budayawan, akademisi, wartawan, hingga para pegiat lingkungan dalam satu forum kebangsaan yang bersifat lintas iman dan lintas budaya.

 

Dalam sambutannya, Ketua Umum PEWARNA, Yusuf Mujiono, mengajak seluruh pihak untuk terus merawat dan melestarikan warisan leluhur berupa candi, seraya tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan sekitarnya sebagai wujud tanggung jawab manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Seminar ini menghadirkan Pembicara Utama Menteri Kebudayaan, Dr. Fadli Zon, didampingi para narasumber terkemuka, yakni Bhikkhu Dhammasubho Mahathera sebagai tokoh kerohanian dan pakar ajaran Dharma Nusantara, Joe Marbun sebagai pemerhati dan pembela warisan budaya, serta Ashiong P. Munthe, wartawan senior PEWARNA Indonesia.

 

Dalam pemaparannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa candi-candi yang tersebar luas mulai dari Sumatera, Jawa, hingga berbagai pelosok tanah air, bukan sekadar tumpukan batu atau bangunan purba yang mati. Sebaliknya, candi merupakan “naskah berwujud batu” yang menceritakan pandangan hidup nenek moyang tentang keteraturan alam semesta, yang dibangun dengan cermat di lereng gunung maupun di dekat sumber mata air yang terpelihara baik.

 

Menurutnya, upaya pelestarian candi tidak boleh hanya berhenti pada aspek fisik atau penelitian arkeologi belaka. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan justru mendorong agar candi dikembangkan sebagai pusat kehidupan berkelanjutan. Hal ini didasarkan pada kesadaran bahwa sejak dahulu kala, situs percandian memang senantiasa dibangun sebagai tempat beribadah yang tumbuh dan hidup di tengah lingkungan alam yang dijaga kelestariannya.

 

“Melalui seminar ini, kami ingin menanamkan kesadaran yang mendalam dalam hati setiap orang, bahwa merawat bumi bukanlah semata-mata tugas sosial atau politik, melainkan merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab kerohanian kita masing-masing,” tegas Fadli Zon.

 

Ditinjau dari perspektif keagamaan, menjaga kelestarian alam merupakan wujud ketaatan tertinggi manusia kepada Sang Pencipta. Alam semesta adalah amanah suci yang dititipkan untuk dikelola dengan bijaksana, bukan dieksploitasi secara berlebihan tanpa batas. Sebaliknya, perusakan alam pada hakikatnya merupakan pelanggaran berat terhadap amanah ilahi tersebut.


 “Ketika manusia merusak alam, berarti ia telah memutuskan keterkaitan yang telah digariskan dalam nilai-nilai ketuhanan. Oleh karena itu, pemulihan kondisi lingkungan tidak akan berhasil jika tidak dimulai dari kebangkitan kesadaran rohani dan keagamaan kita,” lanjutnya.

 

Ia menambahkan bahwa perubahan iklim yang kini terasa semakin nyata di seluruh penjuru dunia merupakan bukti nyata betapa gentingnya persoalan lingkungan saat ini. Di sinilah gagasan ekoteologi menjadi sangat relevan dan penting: ajaran ini mengingatkan bahwa merawat bumi dan alam ciptaan sejatinya adalah bagian dari ibadah kepada Tuhan.


Hal ini tergambar jelas dari candi-candi peninggalan leluhur, di mana ukiran dan pahatan yang menggambarkan keanekaragaman tumbuhan dan hewan menjadi bukti bahwa pelestarian alam sejak dulu telah menjadi tolok ukur kesalehan rohani bangsa. “Membiarkan alam terus rusak berarti membiarkan akar kebudayaan bangsa ini perlahan musnah,” tegas Fadli Zon.

 

Sementara itu, Bhikkhu Dhammasubho Mahathera mengungkapkan kekagumannya atas tingginya peradaban leluhur bangsa Indonesia yang tercermin dari candi-candi megah yang tersebar tidak hanya di seluruh wilayah Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara tetangga. Ia mencontohkan Candi Borobudur yang dibangun dengan ketelitian luar biasa dan tata teknik bangunan yang sangat maju pada masanya, menjadi bukti nyata betapa hebatnya kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki nenek moyang kita.

 

“Bangunan-bangunan agung ini adalah karya besar putra-putri bangsa yang kala itu menganut ajaran Buddha. Apabila warisan luhur ini dikelola dan dijaga dengan sebaik-baiknya, ia seharusnya mampu menumbuhkan rasa bangga yang mendalam bagi seluruh anak bangsa.


Namun sayangnya, hingga kini masih ada pihak-pihak yang berusaha menutupi atau mengaburkan kebesaran sejarah ini seolah-olah tidak pernah ada,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa apabila warisan peradaban ini dipelihara dan dihargai dengan sepatutnya, hal itu akan menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia lahir dari peradaban yang agung dan berkemajuan.

 

Di sisi lain, Joe Marbun menegaskan bahwa situs percandian di Nusantara jauh lebih dari sekadar peninggalan arkeologis berupa tumpukan batu bata atau batu andesit. Candi merupakan gambaran utuh dari peradaban masyarakat agraris yang hidup selaras dengan alam, yang telah memiliki kesadaran mendalam akan nilai-nilai kelestarian lingkungan serta kerohanian yang tinggi. Dalam pandangan ekoteologi, candi melambangkan keseimbangan harmonis antara manusia, alam semesta, dan dunia kerohanian.

 

Namun kenyataannya saat ini, situs-situs bersejarah tersebut menghadapi ancaman nyata: mulai dari kerusakan lingkungan, dampak perubahan iklim, hingga rendahnya kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya. Oleh karena itu, menurutnya, meninjau kembali makna dan nilai di balik lanskap percandian menjadi sangat mendesak — bukan hanya sekadar sebagai kajian ilmiah semata, melainkan juga sebagai landasan kuat untuk menggerakkan langkah nyata dalam melindungi warisan budaya dan kelestarian alam.

 

Ashiong P. Munthe menambahkan bahwa dalam kerangka pandangan ekoteologi, prinsip “carilah dahulu Kerajaan Allah” mengandung makna mendalam: bahwa nilai kebenaran, keadilan, dan pemeliharaan atas seluruh ciptaan semesta haruslah menjadi landasan utama dalam kehidupan bersama. Menurutnya, para leluhur bangsa telah membangun apa yang disebut sebagai “wilayah kerohanian”, yang memadukan keindahan alam, arsitektur candi, serta pencarian makna hidup dalam satu kesatuan yang utuh.


 Sejarah percandian bukan sekadar kisah masa lalu yang sudah berlalu, melainkan menjadi ingatan peradaban yang mengingatkan masyarakat masa kini bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini sesungguhnya muncul akibat manusia telah kehilangan kesadaran rohani terhadap alam semesta dan warisan budaya yang diwariskan leluhur.


 Penulis : rino.r.samosir(Kabiro jak-tim)