SAMBAS – Pemerintah Kabupaten Sambas mempertegas komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan warga melalui kesiapsiagaan menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Mengusung semangat "Sambas Berkemajuan", langkah preventif kini menjadi prioritas utama guna memastikan wilayah tetap aman dari kabut asap.
Upaya pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas dilakukan melalui koordinasi intensif antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta partisipasi aktif masyarakat. Fokus utama saat ini meliputi:
Pemantauan Titik Panas (Hotspot): Peningkatan pengawasan pada area lahan gambut dan kawasan rawan melalui teknologi satelit dan patroli darat secara rutin.
Optimalisasi Relawan: Memperkuat peran Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa sebagai garda terdepan dalam deteksi dini dan pemadaman awal.
Edukasi Pembukaan Lahan: Memberikan sosialisasi kepada petani mengenai metode pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) guna menjaga ekosistem tetap stabil.
Pemkab Sambas menekankan bahwa penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Perlu adanya kerja sama yang solid antara pemerintah dan pihak swasta (perusahaan perkebunan) untuk memastikan ketersediaan sarana prasarana, seperti embung air dan mesin pompa yang memadai.
"Kesigapan kita hari ini adalah investasi untuk kesehatan dan kelancaran ekonomi masyarakat Sambas di masa depan. Kita harus bergerak bersama agar Sambas tetap hijau dan bebas asap," ujar salah satu perwakilan instansi terkait dalam koordinasi kesiapsiagaan.
Dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang kuat, visi Sambas Berkemajuan diharapkan mampu menjawab tantangan iklim dan melindungi seluruh elemen masyarakat dari dampak buruk kebakaran hutan dan lahan.
Kegiatan ini menghadirkan Kepala Pusat Data dan Informasi perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Ir. Hari Wibowo, beserta jajaran, dan dilaksanakan secara hybrid di Aula Utama Kantor Bupati Sambas, Rabu (06/05/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Sambas dipimpin oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Yudi, S.Sos., M.Si., yang menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini melalui kolaborasi semua pihak.
Berdasarkan data SiPongi periode Januari hingga April 2026, luas kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Sambas telah mencapai 1.954,96 hektare yang tersebar di 14 kecamatan. Angka ini setara dengan 39 persen dari total luas karhutla sepanjang tahun 2025, menunjukkan tren peningkatan yang perlu segera diantisipasi.
Dalam arahannya, Yudi menekankan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan masyarakat dan sektor pertanian.
“Karhutla ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, namun juga pada sektor pertanian. Kita tahu Kabupaten Sambas merupakan lumbung padi Kalimantan Barat, sehingga gangguan terhadap lahan pertanian akan berdampak langsung pada ketahanan pangan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan karhutla memerlukan peran aktif serta sinergi seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, aparat, hingga masyarakat di tingkat kecamatan dan desa, khususnya pada wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadinya kebakaran.
Sementara itu, Kepala Pusdatin Badan Lingkungan Hidup, Hari Wibowo, mengingatkan bahwa luasnya wilayah gambut di Kabupaten Sambas menjadi faktor kerentanan yang harus diwaspadai bersama.
“Kabupaten Sambas memiliki kawasan gambut yang sangat luas. Ini menjadi perhatian serius bagaimana pola pencegahan dan strategi pemadaman harus disiapkan secara matang,” jelasnya.
Mengacu pada proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta para ahli klimatologi, fenomena intensitas puncak El Niรฑo diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Kondisi ini berpotensi memperparah tingkat kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Sambas.
Rep : Tim Investigasi
EDITOR: Tim Kabarinvestigasi.id

Komentar
