Berjuang Sendiri Tanpa Perhatian Pemkab, Pengrajin ‘Kralon’ Lokal Gulung Tikar -->

Iklan Semua Halaman

Berjuang Sendiri Tanpa Perhatian Pemkab, Pengrajin ‘Kralon’ Lokal Gulung Tikar

Kabar Investigasi
Minggu, 06 September 2026

 



PALI – Potensi ekonomi kreatif dari pemanfaatan limbah plastik rupanya belum menjadi prioritas bagi Pemerintah Kabupaten PALI .Di tengah gencar-gencarnya kampanye dukungan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), para pengrajin Kralon , kerajinan tangan berbahan pipa PVC/paralon bekas dan limbah kayu di wilayah kabupaten PALI ini justru mengaku sama sekali belum tersentuh bantuan pemerintah daerah.


Kralon, yang mengubah pipa paralon tak terpakai menjadi barang seni bernilai estetika tinggi seperti lampu hias, kaligrafi ukir, dan dekorasi rumah, sebenarnya memiliki potensi pasar yang besar. Namun, keterbatasan modal, alat produksi yang masih manual, serta minimnya akses pemasaran membuat industri rumahan ini hidup enggan mati tak mau.


Husen Pengrajin Kralon Lokal, mengungkapkan rasa kecewanya terhadap minimnya peran dinas terkait dalam mengayomi pelaku usaha kecil seperti mereka.


"Kami sudah bergerak selama lebih dari tahun 2018, Tapi sampai hari ini belum pernah ada satu pun perwakilan dari Pemkab, baik Dinas Koperasi dan UMKM maupun Dinas Perindustrian, yang datang menengok atau sekadar mendata kami. Kami benar-benar berjuang sendiri tanpa modal bantuan, pelatihan, ataupun fasilitas pameran," ujar Husen . Minggu (06/09/2026).


Selama ini, para pengrajin mengandalkan peralatan seadanya seperti solder listrik manual dan gergaji besi kecil untuk mengukir detail paralon. Akibatnya, kapasitas produksi mereka sangat terbatas. 


Ketika ada permintaan dalam jumlah besar, mereka terpaksa menolak karena kekurangan alat modern dan permodalan untuk membeli bahan baku.


Padahal, jika dikelola dan dibina dengan baik oleh Pemkab, kerajinan Kralon ini tidak hanya mampu mengurangi limbah plastik di lingkungan sekitar, tetapi juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru bagi pemuda setempat.

Para pengrajin berharap Pemkab PALI tidak tebang pilih dalam memberikan pembinaan kepada pelaku UMKM.


Mereka mendesak pemerintah daerah untuk turun ke lapangan, melihat langsung kondisi nyata di akar rumput, dan memberikan solusi konkret berupa bantuan alat produksi serta pelibatan dalam agenda pameran daerah.


"Kami tidak minta dimanja, kami hanya butuh jembatan. Janji pemerintah untuk membuat UMKM naik kelas jangan sampai hanya menjadi slogan manis di atas kertas, sementara kami yang di bawah dibiarkan berjuang sendiri hingga mati perlahan," pungkas Husen. 


Rep : Nopriadi.