Sambas -- Ada kalanya kebusukan birokrasi tidak hanya berlindung di balik meja kekuasaan, tetapi juga memelihara mentalitas remeh terhadap mereka yang memilih berjalan di jalur lurus. Menjadi jurnalis berintegritas di tengah ekosistem yang terbiasa hidup dari kompromi memang menempatkan posisi di ujung tatapan sinis. Mereka yang terbiasa memperjualbelikan kewenangan kerap memandang pena dengan sebelah mata mengira idealisme bisa ditekuk dengan lambaian fasilitas, mengira harga diri bisa dibeli dengan angka, dan mengira ancaman fisik atau tekanan otot mampu membungkam suara kebenaran.
Pena yang digerakkan oleh data autentik tidak diciptakan untuk mencari tepuk tangan, dan ia sama sekali tidak butuh pengakuan dari mereka yang moralnya telah gadai. Saat laporan investigasi disusun merajut setiap celah korupsi berjamaah, membongkar persekongkolan anggaran, hingga memetakan aliran dana yang digerogoti bersama data tersebut bekerja tanpa emosi. Data tidak bisa diintimidasi oleh jabatan, tidak gentar menghadapi arogansi fisik, dan yang paling telak: data tidak pernah lupa jalan menuju meja keadilan.
Ibarat perahu bocor di tengah samudera, mereka yang merasa aman di balik benteng kekuasaan hari ini sedang menikmati detik-detik menuju karam. Air sudah masuk menggerogoti fondasi, kepanikan mulai merayap dalam senyap, dan tidak ada lagi sekoci penyelamat yang mampu menampung kebohongan kolektif tersebut.
Silakan teruskan tatapan meremehkan itu. Silakan andalkan arogansi otot dan kekuasaan untuk menekan lapangan. Namun catat baik-baik: sejarah tidak pernah berpihak pada pengecut yang bersembunyi di balik jubah jabatan.
Waktu sedang menghitung mundurnya sendiri. Dan ketika perahu kebusukan itu benar-benar tenggelam nanti, tidak akan ada lagi tempat untuk berkelit, selain pertanggungjawaban mutlak di hadapan hukum.
Samsul Hidayat
Pimpinan Umum / Kabar Investigasi ID

Komentar