SAMBAS – Selasa, 21/4/2026, Kabupaten Sambas dikenal sebagai salah satu lumbung kelapa sawit di Kalimantan Barat. Namun, di balik hamparan pohon sawit yang membentang luas dan asap pabrik CPO yang mengepul setiap hari, warga justru sering dihadapkan pada kenyataan pahit: kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng di pasar lokal.
Fenomena ini memicu kritik tajam mengenai integritas tata kelola industri sawit yang dianggap belum memberikan dampak linier bagi kesejahteraan masyarakat setempat secara langsung.
Sejumlah petani sawit mandiri di Sambas mulai menyuarakan kegelisahan mereka. Menurut mereka, integritas bukan hanya soal jujur dalam menimbang buah, tetapi juga soal keberanian industri untuk mendahulukan kebutuhan rakyat di tempat mereka berpijak.
"Kami yang menanam, kami yang merawat di bawah terik matahari, tapi saat mau menggoreng di dapur sendiri, minyaknya susah dicari atau mahal sekali. Ini adalah ironi yang harus dihentikan dengan keberanian kebijakan," ujar salah satu perwakilan petani sawit dalam sebuah diskusi edukatif.
Para petani mengedukasi masyarakat bahwa ekosistem sawit saat ini masih terlalu berorientasi pada ekspor bahan mentah (CPO), sehingga nilai tambah dan ketersediaan produk turunan seperti minyak goreng tidak dirasakan di daerah penghasil.
Melihat kondisi ini, muncul desakan kuat agar Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan segera mengupayakan berdirinya Pabrik Minyak Goreng (PMG) di Kabupaten Sambas. Keberadaan pabrik pengolahan di Sambas dinilai bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis karena beberapa alasan:
Stabilitas Harga: Memangkas rantai distribusi panjang yang selama ini membuat harga minyak goreng fluktuatif.
Kemandirian Pangan: Memastikan stok minyak goreng di Sambas selalu tersedia tanpa bergantung pada pengiriman dari luar daerah atau luar pulau.
Peluang Kerja: Menciptakan lapangan kerja baru bagi putra daerah di sektor hilirisasi industri.
Integrasi Hulu-Hilir: Memberikan kepastian pasar bagi petani sawit lokal agar buah mereka bisa diserap langsung untuk kebutuhan minyak goreng warga Sambas.
Kelangkaan di tengah kelimpahan adalah tanda adanya "sumbatan" dalam sistem distribusi atau ketimpangan regulasi. Integritas para pemegang kebijakan diuji untuk berani menekan korporasi besar agar tidak hanya mengambil hasil bumi Sambas, tetapi juga berkontribusi pada hilirisasi yang menyentuh dapur rakyat.
Masyarakat Sambas kini menunggu langkah konkret. Tanpa adanya pabrik pengolahan minyak goreng sendiri, hamparan sawit hanya akan menjadi pemandangan indah yang menyisakan asap, sementara rakyatnya tetap berjuang mencari satu liter minyak dengan harga yang masuk akal.
Oleh: Tim Investigasi Media Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

Komentar