Dari Modal Rp. 130.000 KPRI Binarata Kini Memiliki Kekayaan Rp 10 Milyar -->

Iklan Semua Halaman

Dari Modal Rp. 130.000 KPRI Binarata Kini Memiliki Kekayaan Rp 10 Milyar

Jumat, 08 Juli 2011
MOKI,  Banda Aceh-Pada saat banyak koperasi di Aceh bergelimpungan bahkan ada yang mati suri alias tinggal nama, namun Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Binarata yang berdiri  pada 4 Desember 1980 dan awalnya memiliki modal hanya Rp 130.000, kini justru semakin berkembang pesat. Terbukti dari modal yang sangat kecil itu sekarang KPRI Binarata telah memiliki asset (kekayaan) sebesar Rp  10 Milyar lebih.
Menurut ketua Umum KPRI Binarata Drs Ridwan M Adam kepada wartawan diruang kerjanya, Kamis (7/7) mengatakan, posisi koperasi itu dari tahun ke tahun semakin berkembang, selain pengelolaan yang baik juga karena mendapat kepercayaan dari anggota.
“Ini karena kepercayaan dari anggota, yang sebelumnya anggota hanya 26 orang, sekarang mencapai 1.196 anggota,” kata Ridwan didampingi Sekretaris Umum KPRI Binarata, Drs Mukhlis.
Masih kata Ridwan, penyaluran kredit sangat lancar dan kredit yang dapat diberikan kepada anggota maksimal Rp 60 juta dengan limit waktu sampai 6 tahun. Sementara kredit yang telah disalurkan kepada anggota dalam bentuk simpan pinjam per 31 Desember 2010 mencapai Rp 5.814 Milyar.
 
Permodalan KPRI Binarata yang bergerak di 8 bidang usaha itu berasal dari pihak luar (hutang) sebesar Rp 3.383.871.312 yang terdiri dari;   Simpanan berjangka (depesito) koperasi sebesar Rp 1.450 milyar. Simpanan sosial anggota Rp 113.985.725, dana pembagian SHU Rp 1.549 Milyar, dan simpanan resiko pinjaman (semacam asuransi) Rp 88.716.801 serta dana sosisal kepala SD sebesar Rp 9.909.600.
 
Sementara dana cadangan koperasi yang berasal dari keuntungan pertahun mencapai Rp 1.493 Milyar. Begitu juga dengan dana Sisa Hasil Usaha (SHU) atau laba bersih koperasi tahun berjalan (2010) Rp 639.559.698.
 
Sedangkan modal sendiri atau kekayaan bersih KPRI Binarata mencapai Rp 7.530.936.808 yang terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, donasi dan simpanan wajib usaha.
 
Bidang usaha yang dikembangkan oleh koperasi para guru tersebut adalah usaha simpan pinjam, usaha kredit kenderaan roda dua, usaha kredit pertapakan tanah rumah, usaha konsumsi, usaha ATK, Perabot, bahan bangunan dan elektronika.
 
Membaiknya perkembangan koperasi itu tidak terlepas dari system pelayanan yang di kembangakan pihak pengurus koperasi.
 
“Kami berprinsip memberi pelayanan harus dengan sistim. Pelayanan dilaksanakan agar anggota mendapat pelayanan dengan mudah, cepat, adil dan merata. Dan majunya koperasi ini juga karena disiplin dan partisipatif dari anggotanya,” tegasnya.
 
Dikatakan juga bahwa pengurus koperasi dalam memberikan kredit selalu mengarahkan agar mengunakan kredit untuk keperluan yang bermanfaat dan jangan bersifat konsumtif. Bahkan, pengurus mengajak agar anggota bersedia menyimpang uang pada koperasi baik berupa simpanan suka rela maupun simpanan wajib pinjaman dengan memberikan jasa.
 
“Jadi bagi anggota yang meminjam kita bebankan biaya administrasi dan simpanan resiko pinjaman sehingga anggota disiplin dan merasa aman,” ujarnya.
 
Selain itu pihak pengurus juga selalu menghimbau kepada anggota untuk menyimpan pada koperasi (simpanan berjalan koperasi) dan diberikan jasa oleh koperasi sama dengan yang diterima dari anggota. ( Tiopan )