SAMBAS – Peringatan tujuh hari wafatnya Ibu Hasnia, istri tercinta dari Pimpinan Umum Media Kabar Investigasi ID sekaligus Ketua DPC PWRI Kabupaten Sambas, Samsul Hidayat, menyisakan sebuah potret sosial yang mendalam. Acara tahlilan yang digelar dengan penuh khidmat tersebut menjadi saksi bisu tentang hakikat sebuah kemitraan dan ketulusan.
Pantauan di lokasi, deretan kursi yang sedianya disiapkan untuk tamu undangan dari kalangan pejabat dan mitra kerja pemerintahan tampak banyak yang kosong. Padahal, undangan telah disampaikan secara patut sebagai bentuk penghormatan dan penyambung silaturahmi di tengah suasana duka yang menyelimuti keluarga besar tokoh pers tersebut.
Namun, kekosongan kursi para pemangku kebijakan itu justru tertutup rapat oleh gelombang kehadiran warga desa dan tetangga sekitar. Rumah duka yang semula disiapkan untuk menyambut tamu-tamu formal, justru dipenuhi oleh masyarakat biasa yang datang dengan ketulusan doa tanpa pamrih.
Samsul Hidayat, dalam keterangannya, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran warga. Meski ia tak menampik adanya rasa kecewa terhadap minimnya empati dari rekan mitra kerja yang selama ini bersinergi dalam pemberitaan pembangunan, ia justru melihat hikmah besar di balik kejadian ini.
"Ternyata Allah punya rencana lain. Hidangan melimpah yang saya siapkan untuk para tamu kehormatan, akhirnya menjadi berkah sedekah bagi tetangga dan warga desa saya sendiri. Doa mereka sangat tulus, dan itulah yang paling dibutuhkan almarhumah istri saya saat ini," ungkap Samsul dengan nada tegar.
Kejadian ini seolah menjadi pengingat keras bagi para pejabat publik di Kabupaten Sambas. Bahwa hubungan kemitraan dengan insan pers seharusnya tidak hanya bersifat transaksional atau sekadar urusan publikasi di atas kertas. Di atas semua jabatan, ada nilai kemanusiaan dan empati yang seharusnya tetap terjaga, terutama di saat salah satu mitra sedang tertimpa musibah.
Kabar Investigasi ID dan PWRI Sambas selama ini bersuara dalam mengawal transparansi dan pembangunan daerah. Namun, peristiwa tujuh hari ini memberikan catatan tersendiri tentang siapa sebenarnya "saudara" sejati yang hadir saat duka melanda.
"Politik dan jabatan ada batasnya, namun silaturahmi dan kemanusiaan adalah abadi. Saya berterima kasih kepada warga desa yang telah 'menyelamatkan' acara ini dengan doa-doa mereka yang mengetuk pintu langit," pungkas Samsul Hidayat.
Kini, ribuan doa telah terkirim untuk almarhumah Ibu Hasnia. Bukan dari kursi-kursi empuk pejabat, melainkan dari lisan-lisan tulus rakyat jelata yang tahu cara menghargai sesama.
(Tim Redaksi Kabarinvestigasi.id)

Komentar
